SELAMAT DATANG Semoga blog ini bermanfaat bagi anda

Sabtu, 20 November 2010

Mengapa IPA Perlu di Ajarkan Melalui Teori dan Eksperimen?

Untuk menjawab pertanyaan diatas secara utuh kita harus memahami terlebih dahulu apa makna dari IPA itu sendiri, apa kaitannya dengan belajar melalui teori dan belajar melalui eksperimen, kemudian bagaimana pandangan-pandangan Filsafat terhadap IPA sebagai ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan metode belajar melalui teori dan eksperimen ini.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau biasa juga disebut sains (science; dalam bahasa inggris) secara garis besar dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang objek telaahnya adalah alam dengan segala isinya, termasuk bumi, tumbuhan, hewan, manusia dan lain sebagainya. Berkaitan dengan pengertian IPA (sains) ini, banyak ahli pendidikan yang mengemukakan pendapatnya, yaitu antara lain :
• Anna Poedjiadji (pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), sains atau disebut pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang secara logis, sistematis, melalui penelitian dengan metode ilmiah yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
• Connant dalam science, Man and Society (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), menyatakan bahwa masyarakat awam memandang sains sebagai aktivitas manusia yang bekerja dalam laboratorium dan yang penemuannya memungkinkan berjalannya industri modern dan pembuatan obat-obatan secara besar-besaran.
• Suppe, seorang ahli Fisika (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), sains adalah pengetahuan tentang alam (natural world) yang diperoleh dari indra dengan dunia tersebut, dengan keterangan bahwa :
1. Observasi dilakukan melalui indera
2. Proses observasi mengandung interaksi dua arah antara orang yang mengobservasi dan yang diobervasi
• Kemeny, seorang ahli Filsafat (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), mendefinisikan sains sebagai semua pengetahuan yang diperoleh dengan metode ilmiah (meliputi siklus induksi, deduksi, verifikasi dan pencarian terus menerus)
• Dampier, seorang ahli sejarah ilmu kealaman (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), berpendapat bahwa sains merupakan fenomena yang teratur tentang alam dan studi rasional tentang kaitan antara konsep-konsep fenomena tersebut.
• M. Goldstein dan I.F Goldstein (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), menyatakan bahwa sains merupakan aktifitas yang ditandai oleh tiga hal, yaitu :
1. Suatu penulusuran untuk mencapai pengertian, untuk memperoleh jawaban yang memuaskan tentang beberapa aspek realitas.
2. Pengertian itu diperoleh dengan cara mempelajari prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang berlaku terhadap sebanyak mungkin fenomena
3. Hukum dan prinsip dapat diuji dengan eksperimen
• Encyclopedia Americana (dalam Anna Poedjiadi, pengantar filsafat ilmu bagi pendidik, 2001), mendefinisikan sains sebagai pengetahuan positif yang sistematik, atau diartikan juga sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui indera dan tersusun secara sistematik.
• Udin. S. Winata putra (Strategi Belajar Mengajar), IPA tidak hanya merupakam kumpulan-kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, melainkan juga merupakan cara kerja, cara berpikir dan cara memecahkan masalah. Ada tiga unsur utama IPA yaitu : sikap manusia, proses atau metoda dan hasil.
Dari Pengertian-pengertian diatas, kita dapat melihat bahwa IPA merupakan sebuah pengetahuan yang mengkaji fenomena alam secara sistematis melalui metode ilmiah, sehingga pengetahuan (produk) yang dihasilkannya memiliki validitas yang tinggi, dapat dipertanggung jawabkan dan bermanfaat. Jika dilihat dari prosesnya, pendidikan IPA sering dikaitkan dengan metode ilmiah dimana didalamnya terdapat kegiatan berpikir teoritis yang diikuti dengan kegiatan eksperimen/penelitian sehingga siswa dapat menemukan sendiri pengetahuannya. Hal ini sejalan dengan pandangan filsafat Kritisisme (pengetahuan berasal dari berpikir rasional dan dari pengalaman), mengenai pandangan filsafat ini akan dijelaskan kemudian.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang di kemukakan oleh pusat kurikulum Balitbang Depdiknas, mengatakan bahwa pembelajaran IPA, sangat berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga pembelajaran IPA bukan hanya sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Hal ini diperkuat juga oleh Mohamad Amien (1987) yang menyatakan bahwa belajar melalui proses mencari dan menemukan (penemuan) memungkinkan siswa untuk menggunakan segala potensinya (kognitif, afektif dan psikomotor), terutama proses mentalnya untuk menemukan sendiri (konstruktivisme) konsep-konsep atau prinsip-prinsip IPA serta dapat melatih proses mental lainnya yang mencirikan seorang ilmuwan.
Sehubungan dengan pernyataan diatas, maka pembelajaran IPA di sekolah seyogyanya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan belajar secara teoritis saja (pandangan rasionalisme), dan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan eksperimen saja (pandangan empirisisme), tapi dilakukan melalui kegiatan secara teoritis yang di ikuti dengan kegiatan eksperimen (pandangan kritisisme) sehingga dapat membangun dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang dimiliki siswa, baik itu dari segi kognitif (pengetahuan), Afektif (sikap) maupun psikomotor siswa. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembelajaran IPA melalui kegiatan teoritis (Rasionalisme)
Pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan teoritis memang cukup baik, akan tetapi jika berdiri sendiri menjadi kurang efektif terutama untuk membangun kompetensi afektif dan psikomotor siswa. Pembelajaran yang hanya dilakukan melalui kegiatan teoritis ini dilandasi oleh filsafat rasionalisme, dimana menurut aliran ini sumber pengetahuan yang dapat dipercaya hanyalah akal (rasio), pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Menurut Descartes (bapak aliran rasionalisme), rasio adalah satu-satunya sumber pengetahuan, sedangkan kesan-kesan indrawi dianggap sebagai ilusi yang hanya dapat diatasi oleh kemampuan yang dimiliki rasio.
Dari pemaparan diatas, kita dapat melihat bahwa pembelajaran IPA tidak cocok apabila hanya dilakukan melalui kegiatan teoritis saja, hal ini sesuai dengan definisi IPA itu sendiri seperti yang dijelaskan sebelumnya dimana pengetahuan yang dihasilkannya harus valid dan dapat dipertanggung jawabkan melalui kegiatan metode ilmiah (termasuk eksperimen).
2. Pembelajaran IPA melalui kegiatan eksperimen (Empirisisme)
Banyak ahli pendidikan yang mengutarakan pendapatnya bahwa pembelajaran IPA yang dilakukan memalui kegiatan eksperimen lebih baik daripada kegiatan teoritis, karena disana ada keterlibatan langsung dari siswa untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Akan tetapi, sama halnya dengan kegiatan teoritis kegiatan eksperimenpun jika berdiri sendiri menjadi kurang efektif karena tanpa kajian teoritis siswa akan kebingungan baik dalam proses eksperimennya, pengolahan data maupun dalam penarikan kesimpulan. Pembelajaran yang hanya dilakukan melalui eksperimen ini (pengalaman langsung) dilandasi oleh filsafat empirisisme. Aliran empirisisme memiliki pandangan bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman karena pengalamanlah yang memberikan kepastian terhadap sesuatu hal, sedangkan akal merupakan alat/tools yang digunakan untuk mengolah pengalaman. Jadi, menurut pandangan ini kebenaran yang diperoleh haruslah bersifat a posteori/post to experience yang berarti setelah pengalaman. Salah satu tokoh aliran empirisisme ialah John Locke (1632-1704) yang terkenal dengan teori tabula rasa yang berarti setiap manusia diciptakan sama yaitu seperti kertas kosong (as a white paper), pengetahuan yang diperoleh seseorang tidak lain ialah berasal dari pengalaman hidupnya.
Dari pemaparan diatas, kita dapat melihat bahwa pembelajaran jenis inipun kurang efektif karena hanya mengandalkan pengalaman semata tanpa disertai dengan kajian teoritis, hal ini tidak sesuai dengan definisi IPA yang telah dibahas sebelumnya.
3. Pembelajaran IPA melalui kegiatan teoritis dan diikuti kegiatan eksperimen
Pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan teoritis dan diikuti dengan kegiatan eksperimen merupakan gabungan dari jenis kegiatan sebelumnya. Pembelajaran jenis ini dipandang lebih efektif dalam membangun dan mengembangkan kompetensi-kompetensi yang dimiliki siswa baik itu dalam segi kognitif, afektif maupun psikomotor karena dalam pembelajaran IPA yang dilakukan melalui kegiatan teoritis dan kegiatan eksperimen ini, siswa diberi kesempatan untuk bereksperimen dengan dukungan kajian teoritis sehingga pada akhirnya siswa dapat menemukan sendiri pengetahuanya.
Kefektifan pembelajaran melalui kegiatan teoritis dan eksperimen dapat dilihat dari piramida pengalaman yang menunjukan persentase pengalaman (ingatan) suatu kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan kajian teoritis dan eksperimen ini dilandasi oleh filsafat kritisisme yang dikembangkan oleh Emmanuel Kant (1724-1804). Aliran Kritisisme ini merupakan aliran yang menjembatani/ menghubungkan aliran rasionalisme yang mengutamakan akal dan aliran empirisisme yang mengutamakan pengalaman. Menurut aliran Kritisisme, syarat dasar bagi suatu pengetahuan adalah bersifat umum, namun sekaligus memberi pengetahuan yang baru. Empirisme memberikan putusan-putusan yang sintetis, jadi tidak mungkin empirisme memberikan suatu yang bersifat umum. Sebaliknya rasionalisme memberikan putusan-putusan yang analitis, jadi tidak memberikan suatu pengetahuan yang baru. (Hadiwijono, 1980 : 65-66). Jadi, menurut aliran kritisisme Empiri dan Rasio sama-sama merupakan sumber pengetahuan, yaitu kesan-kesan empiri di kontruksikan oleh rasio menjadi kategori-kategori sehingga menjadi pengetahuan. Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiri, kemudian dia mencoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), akan tetapi adanya pengertian mengenai sesuatu timbul dari pengalaman (emperisme).
Dari pemaparan diatas, dapat kita katakan bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatan teoritis dan diikuti eksperimen memiliki keefektifan yang lebih besar karena melibatkan proses berpikir siswa dan juga kreatifitas siswa dalam bereksperimen sehingga siswa dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Hal ini sesuai dengan aliran kontruktivisme yang dikemukakan oleh Giambattiasi Vico pada tahun 1710, aliran ini menyatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh seseorang merupakan hasil dari konstruksi individu (membangun pengetahuan sendiri) melalui interaksinya terhadap obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar