SELAMAT DATANG Semoga blog ini bermanfaat bagi anda

Sabtu, 20 November 2010

Pembelajaran Sains Dengan Eksperimen

Ilmu pendidikan merupakan ilmu terapan yang melibatkan psikologi, sosiologi dan berbagai bahan kajian dalam pengajaran. Oleh karenanya filsafat pendidikan merupakan salah satu bagian dari filsafat ilmu seperti fisafat hukum, filsafat ilmu sosial dan filsafat IPA juga. Adapan komponen utama dalam pendidikan meliputi filsafat pendidikan teori, teori pendidikan dan praktek/proses pendidikan yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Filsafat pendidikan menurut EJ power bertujuan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasi proses mengajar dan belajar yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip pendidikan yang di dasari filsafat pendidikan. Sedangkan proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik (Anna Poedjiadi, 2001).
Guru, peserta didik dan bahan kajian merupakan tiga unsur penting proses belajar mengajar yang saling berkaitan. Oleh karena itu seorang guru dituntut memahami dan menguasai pengetahuan pedagogi yakni bagaimana ia seharusnya dan sebaiknya mengajarkan konsep-konsep tertentu agar memudahkan peserta didik memahaminya, disamping menguasai bahan materi disiplin ilmu yang diajarkannya. Tak terkecuali guru IPA sebagai salah satu mata pelajaran di jenjang pendidikan menengah di indonesia. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Oleh karena itu pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Sehingga pembelajaran IPA membutuhkan kerja laboratorium atau disebut juga eksperimen selain dengan metode ceramah yang umumnya dilakukan (BSNP, 2006).
Beberapa teori pendidikan, model, pendekatan atau konsep yang melandasi dan berkaitan pentingnya pembelajaran IPA dengan dengan ekperimen selain ceramah adalah sebagai berikut :
1. Metode inkuiri
2. Teori Kontruktivisme
3. Pendekatan Contecstual Teaching and Learning (CTL)
4. Pendekatan Keterampilan Proses Sains
5. Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dan lain lain
Mengingat banyaknya teori, model dan pendekatan yang mendukung penggunaan metode eksperimen dalam proses belajar mengajar sains (IPA) seperti tersebut diatas, disini penulis hanya menguraikan beberapa teori, model atau pendekatan dalam satu kaitan yang satu dengan yang lain yang mendukung pentingnya eksperimen dalam pembelajaran IPA di sekolah selain metode ceramah.

1. Metode Inkuiri dan Strategi Pembelajaran
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003) dalam Ibrahim (2007).
Dalam konteks pendidikan, inkuiri berarti mencari suatu temuan, teori atau konsep yang dilakukan oleh pelaku pendidikan. Dalam konteks yang lebih spesifik lagi yaitu dalam proses belajar mengajar, proses mengamati dan mencari tersebut dilakukan langsung oleh siswa dengan dibantu oleh guru mata pelajaran. Metode inkuiri merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk menemukan dan memecahkan suatu masalah yang diberikan guru.
Dalam pembelajaran, siswa melakukan belajarnya sendiri dari proses praktikum atau eksperimen yang dilakukannya dengan dibimbing secara intensif oleh guru mata pelajaran. Dalam hal ini guru membimbing, mengarahkan dan sebagai fasilisator. Siswa diberikan kebebasan bereksperimen untuk membuktikan rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang mungkin mereka alami. Dalam proses eksperimennya, siswa diarahkan untuk membandingkan atau menghubungkan temuannya dengan temuan ilmuan terdahulu atau teori yang ada. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa siswa akan menemukan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada dalam teori.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya (Depdikbud, 1997) dalam Ibrahim (2007).
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topik masalah, sumber masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan. Bonnstetter (2000) membedakan inkuiri menjadi lima tingkat yaitu praktikum (tradisional hands-on), pengalaman sains terstruktur (structured science experiences), inkuiri terbimbing (guided inkuiri), inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry), dan penelitian siswa (student research) dalam Ibrahim (2007).
Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre oriented). Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri (discovery inquiry).
Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.
Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran.
Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh, oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan sebagainya (BSNP, 2006).

2. Pembelajaran kontekstual dengan teori kontruktivisme
Pembelajaran kontektual atau contectual teaching and learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga kerja (BSNP, 2006).
Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.
Tujuh konsep utama pembelajaran kontekstual (BSNP, 2006), yaitu:
a. Constructivisme
 Belajar adalah proses aktif mengonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman alami maupun manusiawi, yang dilakukan secara pribadi dan sosial untuk mencari makna dengan memproses informasi sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimiliki
 Belajar berarti menyediakan kondisi agar memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya
 Kegiatan belajar dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahu-an, bukan menerima pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui peserta didik. Peserta didik menemukan ide dan pengetahuan (konsep, prinsip) baru, menerapkan ide-ide, kemudian peserta didik mencari strategi belajar yang efektif agar mencapai kompetensi dan memberikan kepuasan atas penemuannya itu.
b. Inquiry
 Siklus inkuiri: observasi dimulai dengan bertanya, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, dan menarik simpulan.
 Langkah-langkah inkuiri dengan merumuskan masalah, melakukan observasi, analisis data, kemudian mengomunikasikan hasilnya
c. Questioning
 Berguna bagi guru untuk: mendorong, membimbing dan menilai peserta didik; menggali informasi tentang pemahaman, perhatian, dan pengetahuan peserta didik.
 Berguna bagi peserta didik sebagai salah satu teknik dan strategi belajar.
d. Learning Community
 Dilakukan melalui pembelajaran kolaboratif
 Belajar dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga kemampuan sosial dan komunikasi berkembang
e. Modelling
 Berguna sebagai contoh yang baik yang dapat ditiru oleh peserta didik seperti cara menggali informasi, demonstrasi, dan lain-lain.
 Pemodelan dilakukan oleh guru (sebagai teladan), peserta didik, dan tokoh lain.
f. Reflection
 Tentang cara berpikir apa yang baru dipelajari
 Respon terhadap kejadian, aktivitas/pengetahuan yang baru
 Hasil konstruksi pengetahuan yang baru
 Bentuknya dapat berupa kesan, catatan atau hasil karya
g. Autentic Assesment
 Menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
 Berlangsung selama proses secara terintegrasi
 Dilakukan melalui berbagai cara (test dan non-test)
 Alternative bentuk: kinerja, observasi, portofolio, dan/atau jurnal

3. Pendekatan Keterampilan Proses Sains
Ditinjau dari segi proses, maka IPA memiliki berbagai keterampilan sains misalnya :
a. Mengidentifikasi dan menentukan variabel bebas dan terikat
b. Menentukan apa yang diukur
c. Keterampilan mengamati menggunakan sebanyak mungkin indera, mengumpulkan fakta yang relevan, mencari kesamaan dan perbedaan, serta mengklasifikasikan
d. Keterampilan dalam menafsirkan hasil pengamatan seperti mencatat secara terpisah setiap jenis pengamatan, dan dapat menghubung-hubungkan hasil pengamatan
e. Keterampilan menemukan suatu pola dalam seri pengamatan
f. Keterampilan dalam meramalkan apa yang akan terjadi berdasarkan hasil-hasil pengamatan
g. Keterampilan menggunakan alat atau bahan dan mengapa alat atau bahan itu digunakan.
h. Keterampilan dalam berkomunikasi seperti: menyusun laporan secara sistematis, menjelaskan hasil percobaan atau pengamatan
(BSNP, 2006)

Rustaman, N (1997) dalam Sidharta, mendefinisikan keterampilan proses sains sebagai keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori sains, baik berupa keterampilan mental, keterampilan fisik (manual) maupun keterampilan sosial. Keterampilan proses sains melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena dengan melakukan keterampilan proses sains, siswa menggunakan pikirannya. Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan dan perakitan alat. Interaksi dengan sesamanya dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan merupakan keterampilan sosial.

4. Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM)
Sains-teknologi-masyarakat sebagai suatu program pendidikan untuk pertama kali diperkenalkan di indonesia pada tahun 1985. Latar belakang pemikiran program ini di Amerika Serikat adalah bahwa peserta didik yang telah belajar sains di sekolah tidak dapat menggunakan atau menerapkan konsep-konsep yang diperolehnya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya atau menganalisis isu-isu yang ada di masyarakat. Pengajaran sains dirasakan membosankan atau terlalu sukar (Anna Poedjiadi, 2001).
Di indonesia tujuan pendidikan nasional antara lain menghendaki agar dapat diciptakan insan-insan yang berperilaku kreatif. Perilaku ini amat diperlukan untuk menyelesaikan masalah, untuk mengadakan inovasi dan pengambilan keputusan berdasarkan nilai yang berkembang dalam masyarakat, sesuai karakteristik sosial budaya dan agamanya.
Langkah-langkah yang disarankan untuk pelaksanaan S-T-M di indonesia menurut Anna Poedjiadi ( 2001) adalah sebagai berikut:
1. Guru mengemukakan isu atau masalah aktual yang ada di masyarakat dan dapat diamati peserta didik. Isu tersebut di gali dari pendapat peserta didik
2. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar tertentu yang dapat dipilih guru sesuai dengan pedagogi materi pelajaran. Tahap ini disebut pembentukan konsep
3. Aplikasi konsep untuk menganalisis fenomena atau menyelesaikan masalah.
4. Guru mengadakan pemantapan konsep agar tidak terjadi miskonsepsi pada diri peserta didik.
5. Melaksanakan evaluasi. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan dan mencakup aspek proses, konsep, aplikasi konsep, kreativitas serta sikap.
Pendekatan S-T-M di indonesia di gunakan untuk topik-topik yang banyak terkait dengan kebutuhan dan fenomena di masyarakat. Jadi diharapkan pendekatan ini dapat meningkatkan kemampuan melaksanakan transfer belajar, daya analisis dan kreatifitas peserta didik dalam menyelesaikan masalah di lingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar